Sabtu, 08 Februari 2014

Meresensi Novel

“Dia, Tanpa Aku”



Judul Buku         : Dia, Tanpa Aku
Pengarang           : Esti Kinasih
Penerbit               : PT. Gramedia Pustaka Utama
Terbit                  : Januari, 2008
Tebal Buku         : 275 lembar


Novel ini ditulis oleh Esti Kinasih, lahir di Jakarta, 9 September 1971. Ia mempunyai hobi menulis, traveling, naik gunung, mengoleksi T-shirt bergambar jeep dan mengoleksi perangko. ‘’Dia, Tanpa Aku’’  adalah novel keempat Esti, setelah Fairish(2004) menjadi novel yang paling banyak dibaca dan oplahnya menembus angka 100.000 kopi. Cewek!!!(2005) yang juga laris manis. Dan Still(2006). Ia yang punya prinsip hidup yang easy going ini tetap terobsesi mendaki puncak Himalaya.

          Pada novel ini Esti mengisahkan cerita tentang sepasang kakak adik yang hubungannya sangat erat. Meski mereka suka bertengkar, namun tak dapat dipungkuri bahwa mereka menyanyangi satu sama lain. Terbukti pada saat Ronald sedang berjuang untuk mendapatkan cintanya.

          Pada bagian awal, Ronald punya cinta untuk Citra. Ia memperhatikannya, menemaninya, menjaganya dari kejauhan. Ronald tahu semua tentang Citra. Mulai dari kebiasaannya, kesukaanya dan kekurangannya. Tetapi Citra tidak pernah tahu itu. Ronald cowok kelas 2 SMA, sudah lama naksir Citra yang masih kelas 3 SMP. Tapi Ronald tidak mau PDKT sama Citra. Ronald menunggu sampai Citra masuk SMA.

       Saat yang ditunggu Ronald selama berbulan-bulan pun tiba, Citra lulus dari SMP dan masuk ke SMA. Waktunya menyambut Citra di SMA untuk mengungkapkan isi hatinya. Telah dipersiapkanya dengan menabung uang untuk membeli baju dan sepatu khusus yang dipersembahkannya untuk Citra, bahkan ia rela membawa lontong dan bakwan udang kesekolah untuk dijual kepada teman-temanya. Ia tak pernah malu dengan berjualan lontong. Semua ini dilakukannya hanya untuk Citra, ia tidak mau hanya karena penampilannya nanti akan menghancurkan harapannya yang telah berbulan-bulan dinantinya.

Namun Ronald kecewa ternyata Citra masuk ke SMA yang sama dengan adiknya, Reinald. Dan mereka ternyata satu kelas. Ronald pun selalu menjaga gerak-gerik adiknya agar tidak menyukai Citra. Hingga akhirnya Ronald berpesan kepada Reinald untuk selalu menjaga citra(bodyguard). Reinald sedikit protes melihat abangnya itu. Suatu hari, Ronald memutuskan untuk menemui Citra alasannya karena dia takut keburu direbut orang.

 Hari itu Ronald nampak bahagia sekali dengan raut wajah yang ceria, dia menjadi anak yang baik dan tidak iseng lagi menjailin teman-temannya. Sepulang sekolah Ronald kerumah Citra untuk mengungkapkan perasaannya yang selama ini dipendam.

 Bisa dirasakan kegugupan, kegelisahan, kecemasan, dan ketakutannya. Seluruhnya memuncak di hari ini, setelah penantiannya yang begitu panjang. Semua rasa itu telah menghilangkan konsentrasi dan kewaspadaan Ronald terhadap sekelilingya. Dan hanya pada focus pada tujuan utamanya menyatakan perasaanya ke Citra. Ronald membawakan buket bunga untuk Citra. Tidak dipedulikannya hal lain. Tidak dirasakannya ‘’sesuatu’’ datang. Tidak dirasakannya ‘’sesuatu’’ itu bergerak semakin dekat.

 Tidak juga pengemudi sedan itu, yang memanfaatkan kelengangan jalan dengan menambah kecepatan. Sama sekali tidak diduganya bahwa seseorang akan muncul begitu saja dari antara mobil-mobil yang terpakir di pinggir jalan. Seseorang yang sibuk membawa buket bunga besar kemudian menyebrang tanpa menoleh kanan-kiri.

Dan ‘’sesuatu’’ itu kemudian melakukan tugasnya. Semua bisa mendengar kerasnya bunyi hantaman itu. Logam yang beradu dengan daging dan tulang. Hanya beberapa detik. Tubuh itu rebah tanpa sempat mengeluarkan sedikit pun suara. Darah mengalir. Buket bunga itu terlepas dari tangan. Terlempar menghantam aspal jalan dengan keras. Rebah dan.. patah! Namun satu kuncup tertinggal tergenggam erat dalam jemari Ronald seketika Ronald pun tiada.

 Reinald dan Andika(sahabat Ronald) yang paling terpukul atas kepergian Ronald. Reinald yang sekelas dengan Citra menjadi bersikap musuhan, Reinald pun membenci Citra dan ia sangat marah ketika mengetahui kakanya tewas tidak jauh dari tempat Citra. Sehingga Citra dan Reinald pun bermusuhan dan mereka sering bertengkar di kelas tanpa Citra tahu apa penyebab Reinald memusuhinya. Karena Reinald tidak pernah mengatakan ke Citra apa alasannya ia membenci Citra.

Tapi semakin lama mereka bertengkar dan Citra pun memustuskan untuk mengacuhkannya sehingga sikap Reinald berubah drastis. Kini posisinya berada di posisi yang sama seperti Ronald dulu dan tanpa sadar perubahannya tersebut mendekatan dirinya dengan Citra, sehingga mereka pun saling menyukai.

Lalu suatu saat Reinald mengutarakan isi hatinya kepada Ronald disebuah foto, ia tidak ingin menjaga Citra untuk Ronald. Ia ingin menjaga Citra untuknya sendiri. Kemudian Ronald hadir kembali bahkan dihadapan Citra dengan muncul sebuah curhatan di radio tentang bagaimana dulu dia pertama kali melihat seseorang yang begitu ia cintai. Ronald kembali ia hanya ingin bilang pada Reinald kalau dia menitipkan Citra kepada Reinald. Ronald mengasih Citra buat Reinald, karena Ronald tidak bisa menjaga citra.

Kelebihan: Di novel ini menceritakan tentang bagaimana kita harus jujur, keberanian untuk mengungkapkan sesuatu tanpa harus menunggu lama sehingga kesempatan itu tidak hilang. Kita tidak boleh membenci orang tanpa kita tahu apa yang sebenernya terjadi.

Kekurangan: Di novel ini tidak begitu banyak kekurangan tapi mungkin cara bahasanya lebih diperhatikan misalnya di dalam novel ada kata-kata seperti ‘Bego’ ‘sialan’ . Mungkin novel ini lebih menarik jika kertasnya tidak buram.

Resesantor: Menurut saya novel ini bagus untuk dibaca semua umur, dan kita bisa mempelajari sebuah kesalahan yang pernah terjadi dan mengambil sisi positifnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar